2.7.1 Karakteristik Air Laut
Sumber air yang digunakan oleh PT PJB
UBJ O&M adalah air laut Jawa. Karakteristik air laut yang digunkan sebagai
bahan baku produksi yang masuk melalui intake kanal adalah meliputi sifat
fisika, kimia, dan biologis. Sifat fisika air laut adalah turbiditas dengan
nilai 0,65 NTU, air laut juga memiliki Total Suspended Solid (TSS) <
7,1 mg/L. Sifat kimia air laut yang masuk ke intake kanal adalah salinitas 20%,
mempunyai pH basa yaitu 8,16, Dissolved Oxygen (DO) sebesar 12 mg/L.
Sedangkan sifat kimia dari air laut tersebut adalah memiliki nilai total
koliform sebesar 10 MPN/100 ml.
2.7.2 Proses Pengolahan pada Water Treatment Plant (WTP)
Proses pengolahan pada Water Treatment
Plant terdapat beberapa pengolahan diantaranya sebagai berikut :
A. Pre-Water
Treatment
Pre water treatment merupakan
pengolahan yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan suspended solid
dalam raw water sehingga memenuhi batasan untuk diolah lebih lanjut. Air
laut yang masuk melalui intake, dalam intake terdapat 3 tingkat filter yaitu temporary
screen, bar screen, dan traveling screen. Temporary screen
berfungsi sebgai penyaring awal sampah atau kotoran yang ada di laut. Temporary
screen ini berupa jaring yang terbuat dari besi dan kawat yang bisa
diangkat ke permukaan apabila banyak kotoran yang menempel untuk dibersihkan. Bar
screen berfungsi sebagai saringan lanjutan dari temporary screen. Bar
screen memiliki bentuk yang statis atau tetap dan tidak bisa diangkat ke
permukaan atau dipindah. Sampah yang tidak tersaring pada temporary screen
akan ditampung pada bar screen.
Alat penunjang lainnya adalah mechanical
rake yang berfungsi untuk membersihkan kotoran yang menempel di bar
screen. Chlorine injector yang berfungsi untuk menginjeksikan klorin
pada water intake yang berasal dari chlorine plant. Fungsi dari
klorin ini adalah untuk melemahkan biota-biota laut yang ada di water intake
agar tidak menghambat pipa dalam sistem air pendingin. Selanjutnya adalah traveling
screen yang berfungsi untuk menyaring kotoran yang lolos dari bar screen.
Kotoran dari bar screen yang menempel akan diputar keatas dan kemudian
disemprotkan menggunakan spray water pump sehinga traveling screen
bersih dari biota laut yang menempel. Traveling screen juga berfungsi
sebagai penyaring hewan – hewan laut yang ikut dengan arus laut yang masuk ke
WTP. Air laut kemudian dipompa dengan circulation water pump dari water
intake untuk suplai sistem air pendingin utama. Air laut juga dipompa
menuju kondensor yang digunakan untuk air pendingin pada steam turbine
dan dipompa ke closed cycle cooling water heat exchanger yang akan
digunakan untuk sistem air pendingin. Berikut pre treatment pada pre-water
treatment :
1)
Mechanical Clarifier
Selanjutnya
air laut masuk ke clarifier yang dimana clarifier berfungsi
sebagai pembentukan flok dengan penambahan koagulan. Pada clarifier terjadi
pemisahan antara air bersih dan air kotor. Air bersih yang terpisah dipompakan
ke filter. Air laut yang ada pada clarifier ini dilakukan proses koagulasi,
flokulasi, dan sedimentasi. Koagulasi adalah proses penetralan muatan pastikel
dengan penambahan garam anorganik untuk membentuk partikel endapan/flok.
Koagulan yang digunakan pada proses ini adalah Poly Alumunium Chloride
(PAC) dengan dosis 5-10 ppm. Proses selanjutnya adalah flokulasi yang merupakan
pengadukan pelan untuk memperbesar partikel yang sudah terkoagulan sehingga
lebih padat dan berat serta meningkatkan settling rate. Flokulan yang
digunakan pada proses ini adalah Polyacrilamyde dengan dosis 0,5 ppm.
Sedimentasi merupakan proses terakhir dalam clarifikasi, yang merupakan proses
dimana flok-flok yang saling berikatan settles membentuk sludge.
2)
Multimedia Filter
Proses
adalah multimedia filter yang menggunakan media silica sand atau pasir
silika yang ditumpuk di atas gravel. Sistem sand filter berfungsi untuk
menyaring menghilangkan kotoran yang kasat mata misalnya kekeruhan, lumut, dll.
Daya saring dari sand filter adalah 20-30 micron. Flok yang lolos dari
clarifier akan tersaring, maka dapat dilakukan pembersihan saringan dengan cara
backwashing. Backwashing adalah pencucian yang dilakukan untuk
menghilangkan kotoran yang terakumulasi diatas media dengan metode aliran
terbalik. Proses selanjutnya adalah air yang tersaring pada claifier akan masuk
ke ultrafiltration filter (UF). Air yang masuk ke UF filter melalui automatic
cleaning filter yang berfungsi sebagai penyaring awal cairan yang masih
mengandung kontaminan dan over size materials. Ultrafiltration filter
adalah membrane filtrasi dimana tekanan hidrostatik memaksa cairan terhadap
membran semipermeable. Membran semipermeable adalah lapisan tipis buatan yang
mampu memisahkan zat ketika kekuatan pendorong diterapkan melintasi membran.
Membran ini dapat menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lainnya, partikulat,
dan bahan organik alami, yang dapat memberi warna, rasa dan bau air serta
bereaksi dengan desinfektan untuk membentuk produk samping desinfektasi (DBP).
UF filter berfungsi untuk menyaring colloidal iron, alumunium, dan material
organik seperti bakteri dan virus. UF filter dilengkapi dengan sistem cleaning
filter yang berfungsi untuk menyaring partikel besar (> 130 μm) agar tidak
menyebabkan blocking pada membrane UF.
A. Reverse Osmosis
Air
yang tersaring dari proses UF filter akan masuk ke reverse osmosis. Reverse
osmosis adalah proses dimana tekanan berlawanan arah diberikan pada air
hasil penyaringan UF filter untuk menembus membran semipermeable agar air
tersebut memiliki konsentrasi dissolved solid rendah, RO menyaring
ukuran partikel 0,0001 μm seperti ion logam, garam-garam mineral, dan ion-ion
organik yang mempunyai berat molekul <300 sehingga air yang menembus RO
merupakan air murni yang disebut permeate. Reverse osmosis
terdiri atas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan Brackish Water Reverse
Osmosis (BWRO). Sea water revease osmosis adalah pengolahan air laut
menjadi air payau dengan besar conductivity <1000 μs/cm, sedangkan brackish
water reverse osmosis adalah pengolahan air produk SWRO menjadi air tawar (fresh
water).
Reverse
osmosis yang dilakukan di PLTU Paiton 9 diawali
dengan first RO. Pada first RO juga memiliki sistem sistem flushing yang
berfungsi untuk mengurangi kontaminasi air laut terhadap membrane. Hasil proses
air dari first RO ditampung pada fresh water tank. Air yang sudah
mengalami first RO dan second RO akan memasuki proses demineralizer
melalui catridge filter. Catridge filter merupakan alat pengaman
yang berfungsi untuk melindungi membran dan pompa tekanan tinggi dari partikel
tersuspensi. Alat ini berpori ukuran 5 μm. Filter ini dapat menyaring partikel
dengan ukuran >0.001 mikron. Bahan–bahan kimia yang diinjeksikan pada proses
reverse osmosis diantaranya adalah scale inhibitor atau anti
scaling berfungsi untuk mengontrol atau mencegah scalling seperti carbonate
scaling, sulfate scaling, dan calcium fluoride scalling (Organophosphonate,
polyacrilates) dengan dosis sebesar 1-2 ppm. Reductant atau sodium
metabisulfate yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan chlorine,
diinjeksikan dengan dosis 2-3 ppm. pH
adjustment yang berfungsi untuk mengontrol pH feedwater SWRO (acid atau
HCl, H2SO4) untuk mengontrol scaling.
Sodium
hypochlorite berfungsi untuk mengontrol
pertumbuhan biota atau mikroorganisme laut untuk mencegah biofouling
pada membrane RO, diinjekdi inlet clarifier. Biofouling merupakan
sumbatan pada membrane RO yang disebabkan oleh mikroorganisme. Scalling adalah
adanya kerak yang terjadi karena kristalisasi garam-garam terlarut dalam
membrane RO. Degradasi atau oksidasi yaitu membrane RO terkontaminasi chlorine.
Pembersihan reverse osmosis dapat dilakukan chemical cleaning RO,
dilakukan apabila terjadi pressure drop naik 15% dari saat awal operasi, permeate flow
turun 15%, dan salt passage naik 15%, serta menjaga performa dan life
time membrane RO. Chemical cleaning RO terdapat caustic cleaning
yang berfungsi untuk meremove biological, organik, dan koloidal fouling
tanpa merusak polyamide composite membrane dan acid cleaning yang
berfungsi untuk meremove fouling logam, dan scaling. Selanjutnya
ada preservasi RO yang dilakukan ketika RO shutdown di dalam pressure vessel
RO terdapat sisa raw water dengan kadar garam tinggi, hal ini akan
mempercepat tumbuh kembang biaknya mikroorganisme sehingga bisa menyebabkan biofouling
dan dapat menurunkan performance RO.
B. Demineralizer Plant
Proses
pengolahan air pada demineralizer plant adalah untuk mengolah fresh
water menjadi air bebas mineral dengan mempergunakan media penukar ion yang
terdiri atas penukar anion (R-OH) dan penukar kation (R-H). Air yang dihasilkan
dari proses reverse osmosis masih mengandung anion kation yang
menyebabkan scaling pada boiler, maka kation dan anion tersebut diremove
menggunakan resin ion exchanger. Air yang dihasilkan oleh demineralizer
plant digunakan sebagai air pengisi boiler. Ion exchange merupakan
proses pemurnian air kualitas tinggi sehingga memenuhi syarat sebagai air
penambah atau air pengisi boiler. Terdapat dua macam proses pada sistem ion
exchange yaitu proses operasi dan proses regenasi yang dilakukan secara
berurutan dan bergantian. Proses kimia yang dilakukan pada demineralizer
plant adalah sebagai berikut:
1)
Proses Operasi
Kation : R-H + Ca2+/Mg2+
R-Ca/Mg + H+
Anion : R-OH + Cl-
R-Cl + OH-
2)
Proses Regenasi
Kation : R-Ca/Mg
+HCl R-H+
CaCl2/MgCl2
Anion : R-Cl + NaOH R-OH + NaCl
Keterangan
:
R-H : Resin kation
R-OH : Resin anion
Ca2+/Mg2+ : Katin (Mineral, Kalsium, Magnesium, dll)
Cl- : Anion (Klorida, dll)
R-H : Resin kation
R-OH : Resin anion
Ca2+/Mg2+ : Katin (Mineral, Kalsium, Magnesium, dll)
Cl- : Anion (Klorida, dll)
Proses operasi adalah dimana raw
water turun ke dalam tangki, turun melewati resin (Natrium Zeolite), air
hasil proses naik ke atas melalui pipa riser dan keluar melewati control
menuju tangki make up. Sedangkan pada proses regenasi apabila terdapat
resin jenuh, diaktifkan kembali oleh garam (NaCl). Larutan garam ini dimasukkan
ke dalam tangki lewat riser bawah, kemudian naik ke atas melewati resin
zeolite dan keluar, setelah itu dilakukan slow rinse. Penukar ion
lainnya yang banyak digunakan adalah resi sintetik yang terbuat dari
polisterine. Ada dua macam resin, yaitu kation (Hidrogen Ion Exchanger)
dan ion anion (Hidroxyl Ion Exchanger). Selanjutnya air dari proses
anion dan kation bercampur di mixed bed. Pada mixed terdapat backwash
yang berfungsi untuk membuang suspended solid yang terikut di resin
ion exchange dan resin pecah. Air mix yang berfungsi untuk
menghembuskan udara ke dalam udara ke dalam bed resin agar resin kation
dan anion bercampur. Settle yang berfungsi untuk mendiamkan resin
beberapa saat untuk memastikan bahwa resin telah tercampur. Final rinse
yaitu langkah untuk menguji keberhasilan regenasi dengan menggunakan air
seperti saat normal operasi. Air bebas mineral hasil dari proses penukaran ion
ditampung pada demin tank.
C. Internal Water Treatment
Pengolahan
air yang dilakukan di dalam sistem air uap siklus PLTU. Tujuan pengolahan
internal water treatment adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan
pembangkit karena korosi dan kerak, menjaga kehandalan dan kesiapan pembangkit,
dan mencegah tingginya biaya pemeliharaan karena breakdown. Internal
water treatment meliputi :
a. Condensate
dan Feedwater
Condensate
dan feedwater treatment merupakan proses pertama pada internal water
treatment. Fungsi dari condensate dan feedwater adalah
meminimalkan kemungkinan terjadinya flow accelerated corrosion pada all
ferrous material sehingga mengurangi akumulasi deposit Fe oxide di waterfall
tube boiler, dan meminimalkan kemungkinan terjadinya Cu corrosion pad
mixed metallurgy material sehingga menggurangi akumulasi deposit Cu
oxide di waterfall tube boiler. Pada condensate dan feedwater
treatment terdapat all volatile oxidizing, all volatile treatment
reducing, dan oxygenated treatment.
All
volatile treatment oxidizing, yang mana pada proses
ini dilakukan injeksi ammonia tanpa hidrazin untuk sistem material all ferrous.
Selanjutnya ada all volatile treatment reducing yang diinjeksikan
ammonia dan hidrazin untuk sistem material all ferrous dan mixed mettalurgy.
Terdapat oxygenated treatment yang diinjeksi ammonia dan oksigen untuk
sistem material all ferous dan boiler supercritical. Injeksi
ammonia berfungsi untuk menaikkan pH condensate, feedwater dan
uap range pH yang laju korosinya paling rendah. Pada all ferrous sistem range
pH nya adalah 9,2 – 9,6 dan mixed metallurgy 8,8-9,3, injeksi hidrazin
berfungsi meremove kandungan oksigen terlarut dalam air condensate dan feedwater,
membentuk lapisan passivation pada permukaan pipa, menaikkan pH
feedwater.
Condensate
polishing plant adalah bejana yang berisi campuran resin
cation exchanger dan anion exchanger. Fungsi dari condensate
polishing plant adalah mengolah atau memurnikan air condensate dari impurities
dissolved solid atau garam – garam terlarut dengan proses pertukaran ion,
menyaring partikel – partikel metal oksida produk korosi yang terkandung air
condensate.
b.
Boiler Water Treatment
Proses
pengolahan pada boiler water treatment terdapat phosphate treatment
untuk tipe boiler yang dilengkapi dengan boiler drum, dan all
volatile treatment untuk tipe boiler drum dan supercritical (tanpa boiler
drum). Parameter yang diperhatikan pada proses ini adalah diantaranya feedwater
dan steam, cation conductivity, steam, Na, Cl, SO, dan pph. Proses pada phosphate
treatment merupakan tipe boiler water treatment yang menggunakan injeksi Tri
Sodium Phospate (Na3PO4) di air boiler. Phospate
treatment ini digunakan untuk boiler yang dilengkapi dengan boiler drum. Fungsi
dari injeksi phosphate adalah untuk mencegah terjadinya pengerakan (scaling)
di dalam sistem boiler yaitu dengan mengubah garam Ca dan Mg menjadi garam hot
soluble salt, membantu control pH air boiler untuk mengurangi laju korosi dan
menetralisir adanya impurities acid sehingga bisa menjadi buffering
pH ketika adanya impurities acid. Boiler juga dilengkapi dengan sistem continuous
blow down (CBD) yang berfungsi untuk membuang air boiler bila kualitasnya
mencapai ambang batas persyaratan yang ditentukan.
c.
Cooling Water Treatment
Air
pendingin dibagi menjadi dua di antaranya adalah air pendingin once through
dan air pendingin siklus tertutup. Air pendingin once through adalah air
pendingin dengan sistem air masuk dan setelah melakukan pendinginan air
tersebut langsung keluar dibuang, contoh air tersebut adalah air pendingin
condensor untuk mengubah fase uap setelah memutar turbin menjadi air, dalam hal
ini menggunakan sumber air laut. Air pendingin siklus tertutup yaitu air
pendingin dengan sistem air setelah melakukan pedinginan, contoh dari air
tersebut adalah air pendingin untuk peralatan auxiliary seperti pelumas
peralatan, pendingin air stator cooling generator, dan pendingin motor
pompa.
Air
pendingin condensor menggunakan sumber air laut, pada treatment ini dilakukan
injeksi sodium hypochlorite ke dalam inlet pompa air pendingin condensor (CWP).
Tujuan injeksi adalah untuk melemahkan biota atau mikroorganisme laut dengan
tujuan menghambat pertumbuhan biota laut tersebut di dalam tube condensore
untuk mencegah terjadinya sumbatan pada tube condensore. Kontrol injeksi sodium
hypochlorite yang optimal yaitu dengan menjaga residual free chlorine
di outlet condensore sebesar 0,2 – 0,5 ppm. Close cooling water
menggunakan sumber air demin (high quality water) yang diinjeksikan
dengan hidrazin yang tujuannya untuk membentuk lapisan magnetite pada permukaan
tube dan meminimalkan terjadinya parameter yang dikontrol pada CCW adalah pH, N2H4,
CCl, Fe, Cu, DO. Stator cooling water generator menggunakan sumber air demin,
pada sistem ini tidak perlu injeksi bahan kimia tetapi menggunakan resin
delonizer untuk mengontrol conductivity sebesar <0.5 μs/cm.

No comments:
Post a Comment